Oleh : Jani Wirsah
Bandar Lampung, -Di tengah hiruk pikuk ruang publik yang sering dipenuhi nada keras dan kepentingan sesaat, sesekali kita disadarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu hadir lewat gebrakan besar. Ia justru tampak sederhana melalui tutur kata yang tenang, rujukan pada nilai moral, dan keteladanan sikap. Iya Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djauzal.
Dalam sebuah potongan video yang beredar luas di media sosial, seorang pemimpin tampak menyampaikan pandangannya dengan merujuk pada sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bukan nada menggurui yang terdengar, melainkan nasihat yang mengalir, sejuk, dan menyentuh hati. Di ruangan itu, kekuasaan tidak berdiri di atas meja, melainkan menyatu dengan adab dan keilmuan.
Momen ini segera mendapat respons hangat dari masyarakat. Banyak yang mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi, menyebut sosok tersebut sebagai “pemimpin panutan”. Ungkapan “MasyaAllah” dan doa kebaikan mengalir di kolom komentar, menandakan kerinduan publik terhadap figur pemimpin yang tak hanya tegas dalam kebijakan, tetapi juga lembut dalam tutur.
Di era ketika kepercayaan publik mudah rapuh, kehadiran pemimpin yang berani menempatkan nilai agama dan moral sebagai kompas kebijakan menjadi oase tersendiri. Nasihat yang disampaikan bukan hanya untuk didengar, melainkan untuk diteladani bahwa jabatan adalah amanah, dan kepemimpinan adalah bentuk pengabdian.
Mungkin video itu hanya berdurasi singkat. Namun maknanya melampaui waktu. Ia mengingatkan bahwa kata-kata yang baik, ketika lahir dari niat tulus, mampu menembus sekat jabatan dan menyentuh kesadaran banyak orang. Dan di situlah letak kekuatan seorang pemimpin, bukan pada suara yang paling keras, melainkan pada keteladanan yang paling membekas.
















