Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Muli Sikop dan Puspa, Dua Anak Harimau Sumatra Lahir di Lampung Jadi Simbol Harapan Konservasi

5
×

Muli Sikop dan Puspa, Dua Anak Harimau Sumatra Lahir di Lampung Jadi Simbol Harapan Konservasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bandar Lampung,– Kabar menggembirakan datang dari pusat konservasi satwa di Lampung. Sepasang anak Harimau Sumatra betina yang lahir di kawasan konservasi Lembah Hijau Lampung resmi diberi nama Muli Sikop dan Puspa.

Dua anak harimau tersebut lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan induk Kyai Batua dan Atu Sinta. Kelahiran ini menjadi momen penting karena merupakan keberhasilan pertama program konservasi Harimau Sumatra di Lampung yang dilakukan di luar habitat alaminya.

Example 300x600

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Setyawan Pudyatmoko mengatakan nama Muli Sikop diambil dari bahasa Lampung yang memiliki arti gadis cantik.

“Nama itu adalah doa. Muli Sikop berarti gadis Lampung yang cantik,” ujar Setyawan saat menghadiri prosesi pemberian nama di Lembah Hijau, Jumat (22/5/2026).

Sementara itu, nama Puspa dipilih langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama sang istri. Nama tersebut memiliki makna bunga yang indah dan cantik.

“Itu usulan istri saya. Puspa berarti bunga yang cantik,” kata Mirza.

Menurut Setyawan, pemberian nama tidak sekadar menjadi identitas satwa, melainkan juga simbol harapan agar kedua anak harimau tersebut dapat tumbuh sehat dan kelak mendukung upaya pelestarian Harimau Sumatra yang kini semakin terancam.

“Kami berharap keduanya bisa berkembang biak dan membantu pelestarian harimau di masa mendatang,” ujarnya.

Di balik kelahiran Muli Sikop dan Puspa, tersimpan kisah pilu dari kedua induknya yang pernah menjadi korban jerat liar di habitat hutan Sumatra.

Kyai Batua ditemukan di kawasan Suoh, Lampung Barat, dalam kondisi cacat akibat jerat pemburu. Sedangkan Atu Sinta ditemukan di Bengkulu dengan luka serius hingga harus menjalani amputasi kaki depan demi menyelamatkan nyawanya.

Gubernur Mirza menilai kisah tersebut menjadi pengingat keras bahwa ancaman terhadap satwa liar masih sangat nyata akibat praktik perburuan dan pemasangan jerat ilegal di hutan.

“Kisah Kyai Batua dan Sinta mengingatkan kita bahwa jerat liar sangat menyiksa satwa dan mengancam kelestarian mereka,” katanya.

Komisaris Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, memastikan kondisi kedua anak harimau saat ini sehat dan masih berada dalam pengasuhan induknya. Pihak konservasi juga menerapkan pengawasan ketat demi menjaga kesehatan dan perkembangan satwa langka tersebut.

“Hanya keeper dan paramedis yang diperbolehkan masuk ke area perawatan. Higienitas kandang dan perkembangan anak harimau terus kami pantau,” jelas Irwan.

Selain menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, Muli Sikop dan Puspa juga telah dipasangi microchip serta memiliki rekam medis sebagai bagian dari sistem pendataan satwa konservasi nasional.

Kelahiran dua anak Harimau Sumatra ini menjadi harapan baru bagi upaya penyelamatan salah satu satwa endemik Indonesia yang populasinya terus menurun akibat perburuan, hilangnya habitat, dan konflik dengan manusia.(Rls)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *